Minggu, 23/09/2018 01:41 WIB

Bocah Suku Kawliya Kembali Bersekolah Setelah Libur 14 Tahun

Anak-anak Suku Kawliya akhirnya memiliki sekolah dasar lagi, 14 tahun setelah sekolah di desa itu dirampok dan dihancurkan

Suku Kawliya (Foto: Masaratiraq)

Baghdad – Kawliya, suku terpinggirkan di Az-Zuhoor, Irak akhirnya memiliki sekolah dasar lagi, hampir 14 tahun setelah satu-satunya sekolah di desa itu dirampok dan dihancurkan oleh petempur garis keras.

Az-Zuhoor dikenal secara lokal sebagai Desa Gipsi, terletak di dekat kota Diwaniya, 150 kilometer selatan Baghdad. Sekitar 420 orang tinggal di rumah lumpur dan gubuk buluh berjajar di jalan yang tidak beraspal.

Sebelumnya sekolah dan klinik desa itu tidak memiliki layanan dasar. Dibangun oleh pemerintah Saddam Hussein, lalu dirusak oleh petempur dalam serangan mortir pada akhir 2003, berbulan-bulan sesudah serbuan Amerika Serikat menggulingkan Saddam.

Namun akhirnya sekolah itu dibuka kembali dengan bantuan dana anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa UNICEF, yang dikumpulkan lewat penggalangan dana di Facebook bertemakan ‘Saya Manusia’.

Sekolah baru Suku Kawliya terdiri atas sekelompok karavan, yang disediakan UNICEF di pinggiran Al-Zuhoor. Sekolah itu juga sudah dimasuki 27 anak berusia enam hingga sepuluh tahun, dan memiliki seorang kepala sekolah serta dua guru.

Kepala sekolah Qassim Abbas Jassim menyatakan sekolah dan desa itu menderita kekurangan listrik dan air layak minum.

Dilansir dari Reuters, Kawliya dihina banyak Muslim dan hampir tidak diterima oleh masyarakat lain, sehingga hidup dalam bahaya keberadaan. Mereka kurang pendidikan dan keterampilan, membentuk salah satu anak tangga rendah dari pranata masyarakat Irak serta tidak diberikan kewarganegaraan Irak.

Manar al-Zubaidi, wakil kelompok Saya Manusia, yang setahun melobi untuk pembangunan sekolah itu, mendesak pemerintah memberikan kewarganegaraan kepada Kawliya guna membantu anak-anak mereka melanjutkan sekolah dan mendapatkan pekerjaan.

Di bawah Saddam, Kawliya mendapatkan perlindungan dari penganiayaan, sebagian dalam pertukaran untuk memasok penari, alkohol dan pelacur, kata orang Irak. Jaring pengaman hilang bersamaan dengan penggulingan Saddam, membuat mereka rentan terhadap tingkah religius kelompok keras, yang membenci cara bebas mereka.

Kawliya berbicara dalam bahasa Arab dan mengaku beragama Islam, berasal dari India, meskipun beberapa dari mereka berasal dari negara lain di Timur Tengah. (Ant)

TAGS : Kawliya Irak Pendidikan Timur Tengah




TERPOPULER :