Senin, 24/09/2018 13:09 WIB

Jelita Sejuba, Kisah Manis Nan Ritmis Perjuangan Istri Tentara

Penantian Sharifah begitu kuat menggambarkan sosok istri tentara yang kerap bergejolak.

Press Screening film Jelita Sejuba besutan Ray Nayoan di Epicentrum, Jakarta (Foto: Eka Pramita)

Jakarta - Film Jelita Sejuba (Mencintai Kesatria Negara) berkisah manis dan ritmis seorang perempuan bernama Sharifah (Ipah) yang iperankan dengan apik oleh Putri Marino. Ipah adalah gambaran istri tentara yang hatinya selalu bergejolak setiap kali suaminya, Jaka (Wafda Saifan Lubis) saat ditugaskan oleh negara.

Jaka, sang tentara karismatik penah mengatakan pada Ipah bahwa kemana pun dia pergi, hatinya tetap tertinggal di Natuna di hati Ipah. Momen ini sangat indah dilukiskan dengan pemanangan Pulau Natuna yang menawan. Gradasi air laut menambah cerita cinta mereka semakin manis.

Kerinduan Ipah pada Jaka membawa ingatannya kembali ke masa lalu yang indah di negeri Natuna, Sumatera. Ketika asmara pertama membuat hati belianya bergelora. Ketika bimbang melanda jiwanya saat dipinang sang Prajurit. Ketika si buah hati lahir, tumbuh, dan bertanya kapan Ayahnya pulang. Namun Ipah tetap yakin akan cintanya untuk sang suami tercinta.

Perjalanan film Jelita Sejuba berawal dari buah pemikiran Krinawati, seorang wanita yang berkecimpung di dunia militer. Ia menyaksikan sendiri bahwa di balik sosok prajurit-prajurit muda yang siap mempertaruhkan nyawa untuk negara, ada perempuan-perempuan hebat.

“Film ini adalah kisah cinta yang unik dan tidak biasa. Banyak yang tidak tahu pejuangan hidup para istri prajurit, ketika mereka harus berjarak dengan suami yang sedang bertugas, mereka harus berperan menjadi kepala keluarga. Segala kegelisahan dan kekhawatiran harus dipendam dalam-dalam agar tidak menggoyahkan konsentrasi para suami. Perempuan-perempuan ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang turut mendarmabaktikan kehidupannya pada bangsa dan negara," jelasnya saat Press Screening di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (3/4).

Hal ini pula yang membuat sutradara Ray Nayoan merasa tergugah untuk mengangkat kisah ini sebagai film panjang pertamanya. Sebelumnya ia melihat kehidupan militer itu bagaikan robot. Namun lewat riset dan observasi langsung ke tengah kehidupan para prajurit muda di Natuna.

Selain itu, lanjut Ray, masyarakat perlu tahu bahwa Natuna yang merupakan daerah perbatasan Indonesia paling ujung utara memiliki pertahanan yang begitu kuat.

“Alasan itu membuat kami semakin tertarik untuk mengarap film di Natuna. Setalah kami datang kesini kami menemukan semuanya. Mulai dari pariwisatanya yang begitu indah karena banyak pulau-pulau kecil dan lautnya yang begitu eksotiks, budaya yang kental, dan penduduk Natuna begitu ramah," jelasnya.

Ray juga melihat banyak sisi humanis yang belum banyak terekspos ke masyarakat. Kehidupan para prajurit ini bukan hanya melulu untuk negara. Mereka juga jatuh cinta. "Betapa luar biasanya perempuan-perempuan muda yang berani berkomitmen dengan mereka atas nama cinta. Rela menjadi nomor dua, karena prioritas utama para suami adalah bela negara," sambung Ray.

Film ini turut didukung oleh aktris senior Nena Rosier sebagai Ibu dan Yukio si pemain cilik sebagai Andika putra Sharifah. Aldi Maldini berperan sebagai Farhan, adik Sharifah, di film pertamanya setelah bubarnya grup musik CJR. Dua aktris remaja pendatang baru yaitu Abigail dan Mutiara Sofya yang berperan sebagai sahabat Sharifah remaja tampil menggemaskan lewat penampilan mereka yang menambah dinamika romansa cinta pertama.

Selain itu masih ada Harlan Kasman, seorang aktor lokal Natuna membawa keceriaan lewat aktingnya yang jenaka. Music Director Ricky Surya, yang dikenal sebagai salah satu personel White Shoes & the Couples Company, berkolaborasi dengan pemusik lokal Natuna dalam menciptakan alunan musik Melayu yang indah.

Film Jelita Sejuba akan tayang di bioskop-bioskop nasional tanggal 5 April 2018.

TAGS : film natuna jelita sejuba putri marino




TERPOPULER :