Kamis, 15/11/2018 14:59 WIB

Produk Kosmetik Indonesia Tembus Pasar Afrika dan Timteng

Keunggulan Indonesia, menurut Menteri Airlangga, adalah aspek bahan baku, karena memiliki keanekaragaman hayati baik yang berasal dari darat maupun laut.

Politikus Golkar Airlangga Hartanto

Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan Indonesia sudah mampu mengekspor produk kosmetiknya ke negara-negara ASEAN, Afrika dan Timur Tengah.

Pada 2017, kata Airlangga, nilai ekspor produk kosmetik nasional mencapai USD517 juta atau sekira Rp7,1 triliun, naik dibandingkan 2016 yang hanya sebesar USD470,3 juta atau sekira Rp6,4 triliun.

"Permintaan besar dari pasar domestik dan ekspor karena tren masyarakat yang mulai memperhatikan produk perawatan tubuh sebagai kebutuhan utama," jelasnya.

Ia mengatakan industri manufaktur kosmetik Indonesia bertambah 153 unit pada 2017, sehingga jumlah total perusahaan yang bergerak pada bidang ini mencapai 760 perusahaan. 95 persen dari industri tersebut adalah sektor industri kecil dan menengah (IKM) dan sisanya industri skala besar.

"Pertumbuhan Industri kosmetik nasional cukup tinggi hingga lebih dari 20 persen pada tahun lalu," ujar Menteri Airlangga, dalam siaran persnya Senin (19/3).

Pertumbuhan industri ini, menurut Menteri Airlangga, hingga dua digit atau empat kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, pemerintah menetapkan industri kosmetik sebagai sektor andalan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) periode 2015-2035.

Potensi lainnya adalah tren masyarakat untuk menggunakan produk alami sehingga membuka peluang munculnya produk kosmetik berbahan alami seperti produk-produk spa yang berasal dari Bali.

Keunggulan Indonesia, menurut Menteri Airlangga, adalah aspek bahan baku, karena memiliki keanekaragaman hayati baik yang berasal dari darat maupun laut.

Beberapa yang perlu dikembangkan, sebu Airlangga, seperti ganggang laut dan marine collagen yang potensial untuk dikembangkan di pasar lokal dan global.

"Perlu proses ekstraksi untuk bahan baku. Misalnya lidah buaya bisa menghasilkan kolagen dan ada essential oil, yang saat ini masih impor," kata Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 2006-2009.

Kunci utama pengembangan industri ini, kata Airlangga adalah sinergi penelitian dan pengembangan, karena itu perlu bekerja sama dengan lembaga riset atau perguruan tinggi.

Indonesia kini menempati urutan ke-4 sebagai produsen jamu atau herbal di dunia setelah Tiongkok, India dan Korea . Terdapat 30 ribu jenis tanaman herbal yang tumbuh di dalam negeri, dan perlu dimanfaatkan oleh industri nasional.

"Selain mempromosikan produk unggulan komestik kita, juga dapat mengenalkan Indonesia sebagai penghasil obat tradisional," jelasnya.

Negara-negara ASEAN, menurut Airlangga, mulai fokus mengembangkan potensi wellness industry, yang meliputi industri farmasi, herbal, dan kosmetik. (aa)

TAGS : Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto Kosmetik ASEAN Afrika




TERPOPULER :