Senin, 11/12/2017 22:26 WIB

Komisi VII DPR Desak Implementasikan Teknologi EOR

Dalam kunjungannya ke PT Chevron Pacific Indonesia, Ketua Komisi VII Gus Irawan Pasaribu menanyakan teknologi Chemical EOR (Enhanced Oil Recovery) yang sudah didanai APBN namun belum diimplementasikan oleh Chevron.

Ketua Komisi VII, Gus Irawan Pasaribu (Foto: Humas DPR)

Jakarta - Dalam kunjungannya ke PT Chevron Pacific Indonesia, Ketua Komisi VII Gus Irawan Pasaribu menanyakan teknologi Chemical EOR (Enhanced Oil Recovery) yang sudah didanai APBN namun belum diimplementasikan oleh Chevron.

"Teknologi EOR dari Amerika sudah dibayarkan oleh APBN sebesar 200 juta USD, tinggal didatangkan saja ke Indonesia kemudian di implementasikan agar produksi minyak meningkat," ujar Gus Irawan pertemuan dengan Presdir PT Chevron Pacific Indonesia, Kamis (30/11) di Pekanbaru.

Dijelaskan Presiden Direktur Chevron, Albert Simanjuntak, dengan teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi minyak dari 220 ribu barel/hari menjadi 815 ribu barel/hari.

Meski pada awal uji coba membutuhkan biaya 80 USD/barel namun sekarang biaya itu bisa ditekan hingga 40 USD/barel. Yang artinya pada harga pasar makro sekitar 52 USD/barel bisa mendapatkan margin sekitar 12 USD/barel.

Gus Irawan sebagai anggota Tim Kunspek Komisi VII menyayangkan tidak segera diimplementasikan teknologi EOR tersebut. "Saya menduga ini adalah suatu siasat bagi Chevron untuk bargaining karena 2021 akan habis kontraknya. Persoalannya kalau habis kontrak maka kita utamakan ke BUMN, Pertamina dalam hal ini," ujar Gus.

Di sisi lain, Gus mengatakan bahwa dirinya saat ini merasa ragu dengan kesiapan Pertamina. Gus mengatakan FIFO bisa memberikan BBM dengan RON 89 pada harga lebih murah dari Premium yang nilai RONnya hanya 88.

"Dimana-mana sekarang premium langka, di dapil saya Tapanuli Utara sampai bulan oktober hanya disalurkan 4%. Nasional sampai bulan Oktober hanya 48%. Saya melihat hal ini menjadi ragu dengan Pertamina.

Padahal dalam Perpres 191 Tahun 2014, minyak dibagi jadi 3 jenis, ada BBM tertentu (bersubsidi seperti minyak tanah dan solar), Ada BBM khusus penugasan, tidak disubsidi tapi disiapkan, disediakan, disalurkan (premium), dan BBM umum seperti pertamax, pertalite dan dex," jelas Gus Irawan menambahkan.

TAGS : Warta DPR Komisi VII DPR Kunjungan Kerja




TERPOPULER :