Kamis, 23/11/2017 08:58 WIB

Skill Pekerja Masih Rendah, Tiga Menteri Disentil Wapres

JK menyentil Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), dan Menteri Perindustrian (Menperin).

Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato di ATMI Surakarta

Surakarta – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) mengeluh generasi muda belum punya skill mumpuni untuk memenuhi permintaan dunia industri. Akibatnya, lowongan kerja yang dibuka oleh industri tidak bisa dimaksimalkan, lantaran kebanyakan pelamar tidak memenuhi syarat.

“Di Jawa Timur butuh tenaga kerja 70 ribu untuk industri. Tapi tidak ada yang punya skill,” kata Wapres saat memberikan sambutan di kampus Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, Rabu (8/11).

Wapres mengatakan pemerintah berharap lulusan perguruan tinggi dan siswa yang berasal dari sekolah kejuruan (SMK), memiliki kemampuan dan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Terkait penguatan pendidikan vokasional inilah, JK menyentil Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), dan Menteri Perindustrian (Menperin).

“Pak Menristekdikti, Menaker, Menperin harus berkoordinasi supaya disusun peta kebutuhan tenaga kerja, bagi lulusan SMK sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dengan berpedoman pada peta jalan pengembangan SMK,” ujar JK.

Jk menegaskan, pendidikan vokasi dan dunia industri merupakan elemen penting dalam kemajuan negara. Aset, kata Wapres, bukan hanya bersifat bendawi semata, melainkan keahlian otak, serta kedisiplinan yang berguna bagi industri.

Sementara Direktur Politeknik ATMI Surakarta T. Agus Sriyono mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan revitalisasi vokasional sejak SMK. Penguatan vokasional dilakukan ATMI karena banyak industri yang membutuhkan tenaga kerja ber-skill tinggi.                                                                   

"Kami akan membuka Poltek ATMI Cikarang yang dekat dengan industri. Ini upaya ATMI berbagi vokasi dengan daerah lain," ujarnya.

ATMI mengelola edukasi yang produktif, menjadi pusat pendidikan vokasi, menambah kapasitas, kesulitan. Meski begitu ATMI menghadapi kendala berupa kurangnya diferensiasi antara politeknik dengan universitas, masih sedikit industri yang terlibat dalam pendidikan vokasi, terbatasnya kemampuan investasi untuk mengejar percepatan teknologi, serta kepastian lokal pengembangan kampus tiga.                                                                      

“Kami berharap Kemenristekdikti dan Pemda bisa membantu ATMI dalam upaya penguatan vokasional,” tutupnya.

TAGS : Wapres Jusuf Kalla Pendidikan Vokasi Industri




TERPOPULER :