Senin, 16/09/2019 11:41 WIB

Raih Puluhan Juta Tiap Panen, Petani Muda Perempuan Ini Jadi Inspirasi

Selain aktif sebagai pengusaha sayuran, Norbes juga mengajarkan rahasia suksesnya kepada perempuan-perempuan NTT.

Norbes Selan (27) asal Nusa Tenggara Timur

Kupang – Norbes Selan (27) memang hanya seorang gadis lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, pendapatannya sebagai seorang petani perempuan tidak main-main. Setiap kali masa panen, perempuan kelahiran Tublopo, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mampu menghasilkan Rp21 juta dari usaha bertaninya.

Dengan bergabung bersama program Youth Women Economic Empowerment (YWEE) serta rajin mengikuti arahan Plan International Indonesia, Norbes bertani menggunakan teknik pertanian holtikultura. Sebanyak 23 macam sayuran ia kembangkan, seperti kol, cabe, jahe, wortel kubis, hingga semangka. Namun, di antara seluruh jenis sayuran tersebut, semangka dan kubislah menurut Norbes memiliki angka penjualan paling besar.

“Semangka paling menguntungkan saat musim panas. Tapi saat musim hujan, kubis harganya tinggi. Maret kemarin saya dapat Rp21 juta dari panen semangka,” kata Norbes dengan logat timurnya, saat ditemui oleh Duta Besar Uni Eropa Vincent Guerend dan Country Director Plan International Indonesia Mingming Remata Evora, di TTS, Senin (29/5).

Selain aktif sebagai pengusaha sayuran, Norbes juga mengajarkan rahasia suksesnya kepada perempuan-perempuan NTT. Baginya, perempuan tidak usah jauh-jauh ke luar negeri sebagai TKI untuk mencari pekerjaan, sebab di daerah sendiri pun masih banyak sektor pekerjaan yang bisa digarap, salah satunya di bidang pertanian.

Meski demikian, jalan Norbes tak melulu mulus. Rekan-rekannya banyak yang menyerah karena permintaan orang tua agar menikah muda. “Untung masih banyak juga penggantinya,” ujar Norbes.

Sebelum memutuskan menjadi seorang petani, Norbes ternyata pernah merantau ke Surabaya beberapa tahun yang lalu. Di Kota Pahlawan, ia mencoba menjual jasa sebagai penjahit. Namun, apa daya, penghasilannya jauh di bawah kata layak. Sehingga akhirnya ia memilih kembali ke Tubolopo.

“Jadi tukang jahit setahun. Gajinya Cuma Rp5 juta,” tuturnya.

Sementara Bupati TTS, Paulus Mella mengaku bangga atas raihan Norbes. Baginya, apa yang dilakukan Norbes dapat mengurangi keinginan masyarakat TTS untuk pergi ke luar negeri sebagai TKI.

“Usia seperti ini rawan jadi korban human trafficking. Sudah banyak korbannya di Malaysia. Sehingga kami pikir bagus jika mendukung pemberdayaan pemuda seperti yang dilakukan Norbes,” terang Paulus.

TAGS : Plan International Indonesia Pertanian Holtikultura




TERPOPULER :