Rabu, 19/09/2018 04:00 WIB

Lima Alasan Saat Seks Sudah Menjadi Lebay

Membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan seks sebenarnya sangat jauh dari pentingnya hubungan seks itu sendiri.

Ilustrasi seks (foto: Google)

Jakarta - Bagian terbesar dari budaya laki-laki  berputar-putar di dalam urusan seks.  Sayangnya, saat  ingin mendapatkan seks dari lawan jenisnya,  biasanya  tidak bisa lepas dari anggapan populer bahwa jika tidak bisa mendapatkan seks maka itu berarti lemah, tidak mampu, dan bukan "laki-laki sejati."

Thomas G Fiffer dari Goodmenproject mencoba menjelaskan mengapa dalam pandangan dunia laki-laki itu, "mendapatkan seks" ibarat suatu prestasi dan kehebatan tersendiri. Suatu wujud kekuatan maskulin, prasasti dari banjirnya kadar testoteron, dan satu syarat penting untuk menjadi laki-laki.

Akibatnya muncul kata-kata kalau dalam bahasa Inggris "scoring" yang arti harfiahnya adalah mencetak gol yang dipadankan dengan kemampuan "mendapatkan seks." Hingga kemudian muncul istilah-istilah Zona Pertemanan (Friend Zone) yang mengibaratkan dalam upaya laki-laki mendapatkan seks ada pihak-pihak yang kalah dan menang.

Kesan hebat dari kalimat `.., dan pertahanan perempuan itu roboh," atau sebaliknya  "kasihan, dia ternyata ditolak," menempatkan perbincangan tentang seks sebagai hal yang agresif. Ada yang menaklukkan ada yang ditaklukkan. Padahal sejatinya hubungan seks adalah sesuatu yang tidak seperti itu.

Membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan seks sebenarnya sangat jauh dari pentingnya hubungan seks itu sendiri. Mendapatkan seks terkait dengan penaklukan terhadap lawan jenis untuk memenuhi keinginannya. Jika hal ini yang berlaku maka wajar saja jika seks kemudian tidak perlu terkait dengan cinta, keindahan, makna atau keintiman. Cara pandang maskulin patriakh tiu memang mengaburkan apa sebenarnya kehidupan seks yang wajar.

Tetapi oleh media massa, anggapan "kejantanan" itu adalah hal-hal yang mudah dijual. Budaya patriarki melahirkan produk-produk, dari  membeli layanan seks, obat kuat, majalah "laki-laki", pornografi, hingga judul-judul artikel berita yang memancing "klik" dari pengunjung yang mayoritas adalah laki-laki.

Padahal seorang laki-laki bisa berhubungan seks sebenarnya wajar-wajar saja sebagaimana kehidupan. Anggapan itu muncul dari insting purba laki-laki yang terpola dalam kode genetiknya untuk bisa menyebarkan benih ke mana saja perempuan yang bisa dia titipkan. Padahal menurut Thomas G Fiffer, jika hanya ingin mendapatkan seks maka yang  muncul kemudian justru adalah kekecewaan dan kekosongan, karena tidak akan pernah merasa cukup.

Thomas kemudian menjelaskan mengapa seks bisa menjadi hal yang terlalu dilebih-lebihkan (lebay atau overrated).
1. Jika seks sudah melibatkan kekuasaan maka keintiman akan hilang. Kekuasaan bisa berwujud uang, posisi sosial, dan pemaksaan. Tercapainya keintiman adalah kerelaan dari dua belah pihak, bukan pemaksaan dari pihak yang kuat kepada yang lemah. Tanpa keintiman seks adalah kenikmatan fisik tanpa kepuasan psikologis.

2. Jika seks adalah hal yang ingin Anda ceritakan kepada orang lain untuk membuktikan kehebatan Anda. Pada titik ini seks yang Anda lakukan sama sekali mengabaikan pasangan Anda. Tidak ada pengalaman bersama, dan saling menghargai dan menyayangi.

3. Jika seks yang Anda lakukan berangkat dari anggapan umum bahwa Anda harus melakukan hal a, b, c, dan d. Padahal seks antara dua pasangan yang intim adalah dunia yang tersendiri. Ada keintiman, ada keikhlasan, ada eksplorasi dan bukan merujuk pada "skenario" kehebatan film-film porno.

4. Jika seks, begitu dipuja sangat tinggi bagaikan prestasi. Hal ini akan membuat Anda rentan dengan kegagalan. Karena sejatinya seks antara sepasang kekasih tentu penuh dengan kesalahpahaman, kerapuhan, ketidaktepatan, dan hal-hal remeh yang tidak keren.

5. Jika seks menjadi simbol bahwa Anda sudah layak menjadi kekasih. Jika tujuan Anda mendapatkan seks adalah pengakuan menjadi kekasih atau pengakuan cinta, maka hal itu merendahkan hubungan yang penting antara dua orang yang berkasih-kasihan. Tidak melulu cinta atau berkasih-kasihan harus selalu dengan kesan diterima setelah  pasangan Anda memberikan layanan seks. Seks adalah pengalaman itu sendiri. Tempatkan seks bukan sebagai candu. Tetapi sebagai jalan untuk merasakan hubungan antara sepasang manusia.

TAGS : Hubungan Seks Seks Online




TERPOPULER :