Kamis, 19/01/2017 11:24 WIB

Rafsanjani, dari Revolusi ke Negosiasi

Selama masa revolusi, Rafsanjani membangung gerakan perlawanan bawah tanah yang membuat dia dipenjara hingga 7 kali dari tahun 1960 sampai dengan tahun 1979.

Ali Akbart Rafsanjani, tokoh revolusi Iran

Ali Akbar Hasyimi Rafsanjani, yang meninggal hari minggu kemarin, adalah gambaran seorang pemimpin politik kontemporer yang lengkap dengan rentang karirnya yang sangat panjang. Sangat sulit menemukan padanan tokoh seperti Rafsanjani yang  menjadi pejuang revolusi di masa muda, anggota parlemen, pembentuk dewan revolusi Republik Islam Iran,  juru bicara parlemen.

Dia juga adalah presiden terpilih dengan kebijakan yang moderat saat memilih untuk melakukan reformasi ekonomi. Yaitu  dengan mengabaikan aturan-aturan syariat agama yang mengungkung, hingga kembali menjadi kandidat presiden di masa-masa pensiunnya semata-mata untuk menguatkan peran oposisi.

Rafsanjani adalah figur yang dominan dan berpengaruh bahkan `disukai` oleh pihak Barat karena pada masa kepemimpinannya,  perjanjian untuk mengatur pengembangan teknologi Nuklir yang membahayakan keamanan wilayah timur tengah berhasil dilakukan.

Rafsanjani lahir dari tradisi santri, yang belajar tentang Tauhid atau Teologi pada Ayatullah Khomeini dan menjadi pengikutnya yang setia. Ayatullah Khomeini adalah pemimpin Revolusi Islam Iran yang mampu menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam Iran di tahun 1970.

Selama masa revolusi, Rafsanjani membangung gerakan perlawanan bawah tanah yang membuat dia dipenjara hingga 7 kali dari tahun 1960 sampai dengan tahun 1979. Jika ditotal masa penjaranya adalah selama empat tahun lima bulan karena menjalankan aktivitas bawah tanah perwawanan terhadap rezim Pahlevi.

Begitu Revolusi menang, Rafsanjani mendapatkan kepercayaan dari Khomeini untuk duduk sebagai anggota Dewan Revolusi, yang merupakan organisasi paling utama dan pusat kekuasaan pemerintahan revolusioner. Pada masa revolusi sedang mengalami krisis yang paling berdarah Rafsanjani kerap menunjukkan diri berada di sisi yang paling radikal. Dia adalah perumus konstitusi, Republik Islam iran. Dia juga adalah pemimpin angkatan bersenjata Iran saat berperang dengan Irak di paruh akhir perang yang berangsung hingga delapan tahun lamanya.

Tetapi Rafsanjani kemudian menjadi seorang yang lebih pragmatis ketika menjadi juru bicara Majis Rakyat atau parlemen selama delapan tahun. Rafsanjani adalah seorang yang mampu melobi Khomeini untuk mengatasi perbedaan yang menguat antara parlemen yang menginginkan perubahan radikal dalam ekonomi dengan Dewan Revolusi yang menginginkan perubahan berdasarkan syariat Islam.

Saat berlangsung perang Iran-Iraq, banyak yang menentang apakah Rafsanjani merupakan sosok yang menginginkan perdamaian. Banyak pihak yang mengatakan peran Rafsanjani sebagai orang dalam lingkaran Khomeini banyak melakukan kekeliruan yang membuat perang menjadi berkepanjangan. Walaupun banyak yang tidak yakin apakah Rafsanjani merupakan promotor perdamaian akan tetapi Rafsanjani pada tahun 1988 adalah orang berdiri di partai yang mendukung perdamaian.

Rafsanjani yang pragmatis, melihat bahwa Iran telah terlalu lama keletihan akibat perang, dan perang itu pun tidak mungkin dimenangi. Di sisi lain Rafsanjani tidak menunjukkan posisi bahwa dia menentang pembantaian berdarah ribuan anggota oposisi sayap kiri yang berada di penjara Iran di masa-masa akhir perang.

Setelah kematian Khomeini,  Rafsanjani menjadi Presiden setelah melalui pemilu di tahun 1989. Dia ingin mengubah keadaan, dan melonggarkan kontrol ketat yang ada selama ini. Dia membuka ekonomi bagi sektor swasta dan meningkatkan hubungan dengan dunia luar khususnya dengan Amerika Serikat.

Rafsanjani pulalah yang meluncurkan program rekonstruksi untuk mengatasi kerusakan fisik yang disebabkan oleh perang dengan Iraq. Rafsanjani mencoba mempererat hubungan dengan Amerika Serikat dengan menawarkan kontrak milyaran dolar kepada perusahaan Amerika Conoco -- yang kemudian diblok oleh Presiden Bill Clinton dengan alasan yang tidak jelas.

Rezim Rafsanjani adalah rezim yang mengendorkan kontrol sosial. Perempuan diberikan kebebasan untuk memilih gaya kerudung pilihan mereka dan bebas untuk mengenakan riasan (make-up) di depan umum. Anak-anak muda laki-laki dan perempuan diberi kebebasan untuk berkumpul di muka umum, dan pelarangan musik yang ada sejak masa revolusi diakhiri.

Menteri Kebudayaan Rafsanjani, Mohammad Khatami melonggarkan banyak larangan penerbitan buku, pembuatan film dan pentas teater. Tetapi Rafsanjani tidak berminat mengendorkan kontrol pada kebebasan pers dan aktivitas politik.

Di akhir masa kepresidennya, Rafsanjani mendorong banyak teknokrat Iran untuk bekerja bersama dengannya membentuk organisasi yang dinamakan Executve of Construction. Organisasi ini ingin mendorong kebijakan pembangunan ekonomi. Grup ini berperan baik dalam pemilihan parlemen selanjtunya dan pada tahun 1997 berhasil mengangkat Mohammad Khatami untuk menjadi presiden.

Khatami kemudian meluncurkan program reformasi politik dan sosial yang membuat kecewa dan ditentang oleh para pengusung garis keras. Pada masa inilah Rafsanjani menjadi kaya dengan ditandai anaknya yang mampu menggunakan pengaruh bapaknya untuk sukses dalam banyak aktivitas bisnis. Atas pertimbangan inilah banyak lawan politik Rafsanjani mengatakan Rafsanjani sebagai korupter terbesar di Iran sejak masa revolusi.

Orang Iran menjuluki Rafsanjani sebagai Sang Hiu untuk menunjukkan kecerdasannnya.Julukan lainnya adalah Sang Kucing, julukan yang berasal dari tradisi Persia, tentang kucing yang walaupun terpental ke belakang selalu bisa jatuh lebih dahulu pada kakinya.

TAGS : Revolusi Iran Ali Akbar Hasyimi Rafsanjani




BACA JUGA :

TERPOPULER

Selfie Tidak Selalu Narsis, Ini Jawabannya

Steven Holiday melakukan penelitian kepada 46 orang yang ...