Sabtu, 17/11/2018 00:44 WIB

Empat Permintaan Kemenristekdikti untuk Profesor Diaspora

Terkait sumbangan konkrit para profesor diaspora, Profeor Etin Anwar mendesak pemerintah membuat tahapan jelas untuk memanfaatkan profesor diaspora ini untuk kemajuan bangsa.

Para profesor diaspora menyempatkan waktu tukar pikiran dan gagasan bersama wartawan di Jakarta, Minggu (18/12).

Jakarta - Profesor Diaspora Indonesia atau profesor Indonesia yang selama ini bermukim di luar negeri mendapat tantangan dari Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi (Kemenristek Dikti).  Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti, mengundang profesor dari berbagai bidang yang tinggal di luar negeri datang ke Indonesia.  Di sela acara di tanah air para profesor diaspora menyempatkan waktu tukar pikiran dan gagasan bersama wartawan di Jakarta, Minggu (18/12).

Sejumlah profesor yang hadir antara lain Taifo Mahmud , Etin Anwar, dan  Deden Rukmana yang tinggal Amerika Serikat. Hadir juga Suhendra yang tinggal di Jerman, Dani Hamanto di Inggris, dan Dwi Hertanto di Belanda.

Terkait sumbangan konkrit para profesor diaspora, Profeor Etin Anwar mendesak pemerintah membuat tahapan jelas untuk memanfaatkan profesor diaspora ini untuk kemajuan bangsa. "Selama ini pemerintah hanya mengundang mereka berkunjung ke berbagai universitas. Namun setelah itu tidak ada program yang kongkrit, tidak ada effort sistematis," tuturnya.

Menanggapi hal itu,  Ali Ghufron menyadari sejak kelahiran Diaspora Indonesia tahun 2010 pemerintah belum mempunyai rencana induk memaksimalkan potensi para ahli di berbagai bidang yang tinggal di luar negeri sesuai prioritas pembangunan nasional. Gufron menggarisbawahi setidaknya ada empat hal yang ingin didapat dengan mengundang mereka ke tanah air.

"Pertama, membimbing mahasiswa S2 dan S3 dengan menganalisis sekian banyak data yang dihasilkan dengan resource sharing. Kedua, menuliskan data dan bahan-bahan dari para mahasiswa itu untuk menjadi bahan publikasi. Ketiga, para profesor dan jaringan diaspora diminta menjadi reviewer jurnal nasional menjadi jurnal internasional. Keempat, membuat proposal dari ide-ide yang ada di jurnal tersebut untuk menggaet dana-dana internasional," tutur Direktur di Kemenristekdikti yang dikenal mengelola para profesor ini.

TAGS : Profesor diaspora Kemenristekdikti




TERPOPULER :